Awas, Hati-Hati Menuliskan Wallahu A’lam

60
HATI HATI MENULISKAN Wallahu a’lam bish-shawabi.

Hati-Hati Dalam Menuliskan Wallahu A’lam. Kalimat Wallahu A’lam seringkali anda temui di berbagai artikel Islam atau media Islam. Ketika membaca artikel mereka, anda bisa mendapat kalimat Wallahu A’lam ( والله أعلمُ) dia akhir artikel yang artinya “Dan Allah lebih tahu”  atau “Dan Allah Yang Maha Mengetahui”.

Seringkali juga kalimat Wallahu A’lam ( والله أعلمُ) ditambahi dengan bish-shwabi sehingga menjadi Wallahu a’lam bish-shawabi. Kalimat itu memiliki arti “Dan Allah Mahatahu yang benar/yang sebenarnya”.

Shawabi = benar/kebenaran

wallahu a'lam bish-shawabi

Kalimat itu dibuat sebagai pujian kepada Allah yang maha tau segala sesuatu yang ada di dunia ini. Memang hanya Allah yang Mahatahu, tidak ada satupun makhluk seperti Allah, dan hanya Allah pemilik kebenaran yang hakiki.

Jika anda perhatikan, seringkali terjadi kesalahan penulisan kalimat Wallahu a’lam bish-shawabi. Hal itu teradi karena memang manusia tempat salah dan juga lupa. Manusia hanyalah makhluk yang lemah, yang tak luput dari segala kekurangan.

Seringkali kita temui kalimat Wallahu 'alam tanpa kita sadari ternyata penulisan tersebut SALAH.

Penulisan yang benar untuk kalimat tersebut adalah Wallahu a’lam dengan koma atas berada setelah huruf Alif.

Jelas sekali akan terjadi perbedaan makna jika terjadi kesalahan penulisan. Karena pada dasarnya huruf araf itu beda penulisan bisa beda makna. Beda pengucapan juga akan terjadi perbedaan makna. Maka perlu berhati-hati dalam menuliskan kaliamat Wallahu a’lam ini.

  1. Wallahu a’lam artinya “Dan Allah Mahatahu/Maha Mengetahui atau Lebih Tahu”.
  2. Wallahu ‘alam artinya “Dan Allah itu alam”. Bahkan masih tidak jelas apa arti ‘alam pada kalimat itu. Karena kalau diartikan “Dan Allah itu alam” maka penulisannya harus Wallahu ‘alamin atau Wallahu ‘aalamin.

Merujuk dari bahasa Arab, A’lam itu berasal dari kata ‘alima yang artinya”Tahu”.

Nah dari dasar kata itulah maka terbentuk kata ‘ilman (Isim Mashdar, artinya ilmu/pengetahuan), ‘alimun (fa’il/pelaku, yakni orang yang berilmu), ma’lumun (pemberitahuan, maklumat), dan sebagainya, termasuk a’lamu/a’lam (lebih tahu).

Kesalahan penempatan tanda petik biasa jerjadi karena akibat dari transliterasi bahasa Indonesia pada huruf ‘ain bahasa Arab. Contohnya kata Jum’at, Bid’ah, dll.

Nah jadi hati-hatilah dalam menuliskan kalimat Wallahu a’lam.

Penulisan yang benar adalah Wallahu a’lam, bukan Wallahu ‘alam.

Saya yakin setipa penulisan tersebut bermaksudnya adalah Dan Allah Mahatahu. Namun jika tidak ada yang mengoreksi maka kesalahan ini akan terus menerus terjadi bahkan secara sadar maupun tidak sadar.

Kita Shahih Bukhari menjelaskan tentang ucapan Wallahu a’lam. Abdullah bin Mas’ud ra berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ مِنَ العِلْمِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لاَ يَعْلَمُ اللَّهُ أَعْلَمُ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ المُتَكَلِّفِينَ}

“Wahai sekalian manusia, siapa yang mengetahui tentang sesuatu, sampaikanlah. Dan jika tak tahu, ucapkanlah, ‘Allahu a’lam’ (Allah Mahatahu). Karena, sungguh, termasuk bagian dari ilmu, jika engkau mengucapkan terhadap sesuatu yang tidak kau ketahui dengan ucapan: ‘Allahu a’lam’. Allah berfirman kepada Nabi-Nya: ‘Katakanlah (hai Rasul): ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun pada kalian atas dakwahku dan bukanlah Aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. ” (QS. Shad: 86) (HR. Bukhari)


Jadi kami berharap agar setelah mengetahui kesalahan ini anda tidak lagi menuliskan kalimat Wallahu a’lam yang salah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here